Thursday, November 14, 2013

sinopsis dan analisis the king speech



Sinopsis The King’s Speech

            Film The King’s Speech mengisahkan bagaimana seorang raja George VI berusaha untuk menjadi seorang pemimpin yang diidamkan oleh masyrakat Inggris di kala itu. Raja George VI atau yang lebih diakrab disapa dengan Bertie, memiliki gangguan dalam berbicara atau gagap.
Situasi pertama dalam film ini mengisahkan tentang bagaimana Bertie berusaha untuk berpidato di depan orang banyak, namun ternyata ia tidak dapat membacakan isi naskahnya. Dengan dukungan yang diberikan oleh sang istri Elisabeth, Bertie mulai melakukan banyak terapis termasuk menjalankan terapis yang diajukann oleh kerajaan. Tetapi ternyata terapi-terapi yang dilakukan oleh Bertiepun tidak membuahkan hasil.
Di tengah ketidakpercayaan Bertie, hadirlah tokoh Lionel yang merupakan seorang kakek tua yang membuka praktek terapi bicara. Sejak saat Elisabeth berusaha mencari Lionel, disitulah awal dimulainya interaksi antara calon raja George VI dan  Lionel. Pada awalnya Bertie merasa metode yang dilakukan oleh Lionel hanyalah omong kosong dan Ia tidak ingin melanjutkannya lagi. Tetapi ternyata, keadaan berubah saat ayah Bertie meninggal. Edward yang merupakan kakak dari Bertiepun diangkat menjadi raja, namun karena kebiasaannya yang buruk, berdampak pada keadaan kerajaan yang tidak baik. Bertie menyadari bahwa sebagai salah satu pewaris kerajaan, dirinya memiliki tanggung jawab kepada rakyatnya. Sejak saat itu ia kembali untuk menemui Lionel dan berusaha untuk menjalankan segala terapi dengan metode yang diberikan oleh Lionel, sampai pada akhirnya Bertie dapat menyelesaikan pidato pertamanya dengan sempurna.
Analisa Film
            Menurut saya, film ini merupakan salah satu film yang yang menceritakan tentang gangguan dalam berkomunikasi. Film ini menggunakan konsepsi psikologi humanistik, dimana film ini menceritakan tentang kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya untuk mencapai keinginannya. (King, 2013)
            Raja George VI yang memiliki kekurangan dalam melakukan komunikasih, memiliki keinginan yang kuat untuk menyembuhkan dirinya sehingga ia berusaha dengan melakukan banyak terapi. Pendekatan humanistik  yang diterapkan oleh Lionel dengan berusaha menjadikan Bertie sebagai sahabatnya ternyata membawa hasil dan dapat menyembuhkan ‘gagapnya’. Lionel menganggap Bertie sebagai seorang pribadi yang unik serta memiliki suatu nilai tersendiri dan kemampuan untuk dapat sembuh dari ‘gagapnya’.

valentina

Thursday, November 7, 2013

Kelompok Sosial pada Remaja



Kelompok Sosial pada Remaja
     Sebagai seorang individu, remaja merupakan makhluk sosial. Dalam masa pencarian jati diri, remaja terus melakukan interaksi dan membentuk kelompok-kelompok yang sesuai dengan dirinya.

Definisi Remaja
     Masa remaja merupakan suatu masa yang sering kali dikatakan sebagai masa ‘emas’. Menurut Darajat (dikutip dalam Haryanto, 2010) masa remaja merupakan:
Masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. (para. 3)
     Hal senada juga diungkapkan oleh Santrock (dikutip dalam Haryanto, 2010) “adolescence diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional” (para. 3). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada umumnya remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

Definisi Kelompok Sosial     
     Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia selalu membutuhkan orang lain untuk melengkapi kebutuhan hidupnya, sehingga manusia harus berinteraksi dan pada akhirnya membentuk suatu kelompok. Menurut Horton dan Hunt (dikutip dalam Tim Sosiologi, 2007) “kelompok sosial sebagai kumpulan manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi” (h. 84). Selaras dengan Horton dan Hunt, Puspito (dikutip dalam Tim Sosiologi, 2007) berpendapat bahwa “kelompok sosial sebagai suatu kumpulan nyata, teratur, dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan bersama” (h. 84). Dari penjelasan di atas dapat disumpulkan, kelompok sosial merupakan merupakan suatu kumpulan individu yang saling berinteraksi, serta memiliki suatu peran dan tujuan yang sama.

Ciri-ciri Kelompok Sosial pada Remaja
     Tidak semua kumpulan individu dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Untuk itu terdapat suatu ciri khusus yang dapat membedakan kelompok sosial dan kerumunan individu. Sebagai kelompok sosial, para anggotanya akan senantiasa melakukan interaksi secara rutin sehingga dapat dipastikan saling mengenal. Kelompok sosial yang merupakan kesatuan nyata, memiliki suatu tujuan yang sama, sehingga setiap anggotanya dituntut untuk menjalankan peranannya masing-masing (Taylor, Peplau, & Sears, 2009).
     Kelompok sosial pada remaja biasanya dapat dijumpai dalam lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang biasanya merupakan organisasi atau kelompok persahabatan. Pada kelompok-kelompok tersebut dapat ditemukan berbagai lambang yang menjadi identitas dari kelompok tersebut (Steinberg, 2011).
Faktor Pembentukan Kelompok Sosial pada Remaja
     Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu berusaha mencari jati diri. Rasa ingin dicintai dan dihargai menjadi faktor utama yang membuat seorang remaja berusaha untuk membentuk suatu kelompok sosial. Selain itu rasa keingintahuan yang besar, juga sangat mendorong para remaja untuk melakukan interaksi, sehingga membentuk suatu kelompok (Santrock, 2003).
     Perasaaan senasib dan hobi yang sama juga seringkali menjadi suatu alasan seseorang membentuk suatu kelompok. Setiap individu, khususnya remaja akan mencari atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang dapat membuatnya merasa nyaman. Rasa ingin diakui dan meraih popularitas juga dapat menjadi faktor utama seorang remaja membentuk suatu kelompok (Tim Sosiologi, 2007).

Fungsi Pembentukan Kelompok Sosial pada Remaja
     Sebagai individu, remaja memerlukan orang lain untuk membantunya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan membentuk atau bergabung dengan suatu kelompok, para remaja akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya, serta dapat lebih mengenali dirinya. Selain itu, para remaja juga dapat belajar mengenai banyak hal sehingga akan meningkatkan kemampuan mereka baik secara afektif maupun kognitif. Serta keberadaan yang diakui oleh individu lain juga menjadi salah satu fungsi pembentukan suatu kelompok (Winarti, 2007).
Menurut Bozzi (dikutip dalam Rice & Dolgin, 2002), kelompok sosial juga menentukan kesuksesan seseorang. Semakin sering dan aktif seseorang dalam berinteraksi, ia akan memiliki semakin banyak relasi yang dapat membantunya. Selain itu dengan berinteraksi dengan kelompok sosial, seorang individu akan mendapatkan banyak akses yang akan mempermudah kehidupannya.

Tahap-tahap Hubungan Kelompok Sosial pada Remaja
     Dalam berkelompok, remaja biasanya mengalami beberapa tahap hubungan. Menurut  Dunphy (dikutip dalam Santrock, 2003) seorang remaja akan mengalami lima tahap hubungan kelompok, yaitu:
1.      Tahap pra-kerumunan; kelompok yang terpisah, berjenis kelamin sama. Contohnya,  kelompok perempuan dan kelompok lelaki.
2.      Tahap kerumunan; kelompok dengan jenis kelamin yang sama mulai melakukan interaksi dengan kelompok lain. Contohnya, kelompok lelaki yang mulai berinteraksi dengan kelompok perempuan.
3.      Tahap kerumunan melewati transisi struktural; kelompok yang berjenis kelamin sama membentuk kelompok dengan jenis kelamin berbeda, terutama pada anggota kelompok yang berstatus lebih tinggi. Contohnya, kelompok-kelompok persahabatan seperti klik.
4.      Tahap kerumunan yang sudah terbentuk dengan baik; kelompok-kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda mulai terhubungkan dengan saling bergabung satu sama lain. Contohnya, organisasi remaja.
5.      Tahap akhir, awal perpecahan kerumunan; kelompok-kelompok yang sudah terbentuk dengan baik mengalami kerenggangan. Keadaan seperti ini biasanya disebabkan karena perbedaan pendapat serta perbedaan kepentingan.

Macam-macam  Jenis Kelompok Sosial pada Remaja
     Berdasarkan beberapa aspek tinjauan, kelompok sosial pada remaja dapat dikelompokan menjadi beberapa klasifikasi. Menurut Tim Sosiologi (2007) dalam bukunya Sosiologi Dua: Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat, kelompok sosial pada remaja terdiri dari (a) kelompok gemeinschaft, (b) kelompok gesellschaft, (c) kelompok primer, (d) kelompok sekunder, (e) kelompok  in group, dan (f) kelompok out group.
     Pertama, kelompok gemeinschaft, kelompok ini merupakan suatu kelompok yang memiliki ikatan yang erat. Pada dasarnya gemeinschaft merupakan kelompok yang didasari oleh ikatan darah, daerah asal, dan juga ideologi. Kelompok kedua adalah kelompok gesellschaft, kelompok ini merupakan kelompok remaja yang terbentuk karena adanya suatu hobi atau kesenangan yang sama. Ketiga, kelompok pimer, kelompok ini merupakan kelompok yang sering ditemukan dalam kehidupan remaja. Kelompok yang lebih sering dikenal dengan kelompok klik atau kelompok persahabatan ini sangat umum terjadi diantara masyarakat. Sedangkan kelompok yang keempat adalah kelompok sekunder. Kelompok ini merupakan kelompok yang biasa disebut dengan organisasi. Kelompok sekunder biasanya bersifat formal dan memiliki asas atau aturan yang kaku di dalamnya.
     Kelompok kelima adalah in group. Kelompok ini biasanya didasari oleh rasa simpati dan rasa saling memahami yang dapat ditemukan dalam kelompok klik atau kelompok persahabatan dikalangan remaja. Kelompok terakhir adalah kelompok out group. Kelompok ini merupakan kelompok yang biasanya merupakan lawan dari kelompok ‘in group’ dan menimbulkan rasa antipati.

Simpulan
     Remaja yang merupakan makhluk sosial, membutuhkan orang lain dalam kehidupan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, para remaja terus melakukan interaksi, dan akhirnya membentuk suatu kelompok-kelompok sosial. Kelompok sosial membawa banyak kesempatan bagi para remaja untuk lebih mengenal kemampuan juga jati diri individu tersebut. Melalui kelompok sosial para remaja dapat belajar berinteraksi dan membangun relasi dengan individu lain, serta dapat belajar untuk mengembangkan kemampuannya. Banyak tahap yang dialami oleh para remaja sebelum pada akhirnya membentuk kelompok-kelompok sosial.

 Valentina
 705130080





Daftar Pustaka

Haryanto. (2010). Pengertian remaja menurut para ahli. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
Rice, F. T., & Dolgin, K. G. (2002). The adolescent: Development, relationship, and culture (10th ed.). Boston, MA: A Pearson Education.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (S. B. Adelar., & S. Saragih, Penerj.) (W. C. Krisnadi., & Y. Sumiharti , Eds.). Jakarta: Erlangga.
Steinberg, L. (2011). Adolescence (9th ed.). New York, NY: Mc Graw-Hill
Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O. (2009). Psikologi sosial (edisi ke- 12). Jakarta: Kencana.
Tim Sosiologi. (2007). Sosiologi 2: Suatu kajian kehidupan masyarakat (edisi ke-2, revisi). Jakarta: Yudistira.
Winarti, E. (2007). Perkembangan kepribadian. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Friday, November 1, 2013

Pola Perilaku Remaja Akibat Perceraian Orangtua



Definisi Keluarga
     Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Setiap individu memiliki persepsi berbeda mengenai keluarga. Pada umumnya keluarga merupakan sekelompok orang yang memiliki ikatan baik secara emosional dan keturunan atau pertalian darah. Menurut Reiner (dikutip dalam Jubair, 2012, para. 3) “keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek, dan nenek”.

Faktor-faktor Utama yang Memengaruhi Perceraian
     Dalam membina suatu keluarga sering kali kita menemukan hambatan dan masalah-masalah, yang tidak jarang berujung pada perceraian. Perceraian merupakan suatu kondisi dimana keluarga tidak lagi utuh, dimana pasangan suami istri tidak lagi tinggal bersama. Beberapa faktor utama yang memengaruhi perceraian, yaitu (a) keadaan ekonomi, (b) perselingkuhan, (c) KDRT, dan (d) cara pandang yang tidak lagi sejalan.
     Alasan pertama yang sering kali membuat seseorang memutuskan untuk bercerai adalah keadaan ekonomi. Banyak orang mengatakan, dalam membina suatu hubungan keluarga cinta bukanlah satu-satunya hal terpenting, melainkan kondisi ekonimilah. Banyak fakta yang dapat dijumpai di dalam masyarakat bahwa banyak pasangan yang gagal dalam membina hubungan perkawinan mereka akibat kondisi ekonomi yang buruk. Banyaknya kebutuhan yang kerap kali tidak terpenuhi, seringkali memicu perselisihan yang berujung pada ketidakberdayaan dalam mempertahankan bahtera rumah tangga.
     Alasan kedua yang menjadi pemicu dari perpisahan suami-istri adalah perselingkuhan. Kehadiran orang ketiga merupakan permasalahan yang sangat umum terjadi dan menjadi salah satu alasan utama penyebab terjadinya perceraian. Ketidakpuasan pasangan atau keterlibatan cinta pada masa lalu yang belum usai merupakan pemicu terjadinya perselingkuhan.
     Alasan ketiga yang menjadi pemicu dalam terjadinya percerain adalah kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT. Kekerasan dalam rumah tangga biasanya dilakukan oleh pihak pria. Kondisi lingkungan yang buruk serta himpitan kehidupan yang mendesak seringkali membuat seorang pria cenderung berprilaku kasar. Tindakan penganiyayaan yang dilakukan oleh pria biasanya merupakan suatu pelampiasan atas masalah atau kekesalan yang dihadapinya.
     Alasan terakhir yang seringkali menjadi alasan pasangan suami-istri untuk bercerai adalah cara pandang yang tidak lagi sejalan. Individu merupakan makhluk dinamis yang senantiasa berkembang. Perkembangan yang di alami oleh seorang individu sering kali mempengaruhi cara berpikir, berperilaku dan juga kebutuhannya. Pandangan yang tidak lagi sama merupakan salah satu proses dari perkembangan pola pikir individu sehingga sering kali hal ini menyebabkan seseorang tidak dapat lagi hidup bersama.

Dampak dari Perceraian
     Perceraian dalam suatu keluarga tidak hanya berdampak bagi pasangan suami-istri, tetapi sering kali berdampak pula dengan keadaan psikologis sang anak. Tanpa disadari oleh pasangan suami-istri, anak sering kali menjadi korban keegoisan dalam perceraian kedua orangtuanya.
     Anak-anak dengan latar belakang orangtua yang bercerai biasanya memiliki masalah psikologis. Keadaan frustasi dan rasa takut akibat tekanan yang dialaminya di rumah seringkali membuat seorang anak kehilangan jati dirinya dan mengalami perubahan prilaku. Penyimpangan serta kenakalan yang dilakukan oleh anak yang menjadi korban penceraian merupakan suatu pelampiasan akibat kemarahan serta rasa kecewa yang dialami oleh sang anak. Sikap antisosial yang ditunjukan seorang anak juga merupakan prilaku yang kerap kali terjadi pada seorang anak yang menjadi korban penceraian.
     Perceraian juga berdampak pada keadaan psikologis pasangan suami-istri yang mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga. Seringkali perceraian membawa suatu trauma tersendiri, terutama dalam memulai suatu hubungan yang baru. Perceraian juga sering kali mengubah perangai pasangan suami-istri yang pada akhirnya melupakan tugas mereka sebagai orangtua.

Solusi untuk Menghindari Perceraian
     Manusia yang dikaruniai oleh akal dan budi memiliki kemampuan bernalar yang tinggi sehingga mampu menemukan jalan keluar atas masalahnya. Tidak ada permasalahan yang tidak dapat diselesaikan termasuk perceraian. Setiap individu juga dapat menghindari percerain dengan menjaga pikiran agar tetap postif, terbuka dengan pasangan agar menghindari kesalahpahaman, serta saling berdiskusi agar dapat berintropeksi dan menemukan solusi untuk setiap masalah yang di hadapi. (Destriyana, 2013)







Daftar Pustaka
Destriyana. (2013). Enam cara terbaik untuk menghindari perceraian. Diunduh dari http://www.merdeka.com/gaya/6-cara-terbaik-untuk-menghindari-perceraian.html
Jubair, D. (2012). Pengertian keluarga menurut para ahli. Diunduh dari  artikelprofesikesehatan.blogspot.com/2012/12/definisi-keluarga-menurut-beberapa-ahli.html?m=1
Prijosembodo, W., & Panggabean, M. S. (2012). Kajian tentang keluarga: dari ruang konsultasi psikiatri. Jakarta: Mitrabaca.
Valentina
705130080