Kelompok
Sosial pada Remaja
Sebagai
seorang individu, remaja merupakan makhluk sosial. Dalam masa pencarian jati
diri, remaja terus melakukan interaksi dan membentuk kelompok-kelompok yang
sesuai dengan dirinya.
Definisi Remaja
Masa
remaja merupakan suatu masa yang sering kali dikatakan sebagai masa ‘emas’.
Menurut Darajat (dikutip dalam Haryanto, 2010) masa remaja merupakan:
Masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa
ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun
perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun
cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
(para. 3)
Hal senada juga diungkapkan oleh Santrock
(dikutip dalam Haryanto, 2010) “adolescence diartikan sebagai masa
perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan
biologis, kognitif, dan sosial-emosional” (para.
3).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada umumnya remaja merupakan masa peralihan
dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.
Definisi Kelompok Sosial
Sebagai
makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia selalu membutuhkan
orang lain untuk melengkapi kebutuhan hidupnya, sehingga manusia harus
berinteraksi dan pada akhirnya membentuk suatu kelompok. Menurut Horton dan
Hunt (dikutip dalam Tim Sosiologi, 2007) “kelompok sosial sebagai kumpulan
manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi”
(h. 84). Selaras dengan Horton dan Hunt, Puspito (dikutip dalam Tim Sosiologi,
2007) berpendapat bahwa “kelompok sosial sebagai suatu kumpulan nyata, teratur,
dan tetap dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara
berkaitan guna mencapai tujuan bersama” (h. 84). Dari penjelasan di atas dapat
disumpulkan, kelompok sosial merupakan merupakan suatu kumpulan individu yang
saling berinteraksi, serta memiliki suatu peran dan tujuan yang sama.
Ciri-ciri Kelompok Sosial pada
Remaja
Tidak
semua kumpulan individu dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Untuk itu
terdapat suatu ciri khusus yang dapat membedakan kelompok sosial dan kerumunan
individu. Sebagai kelompok sosial, para anggotanya akan senantiasa melakukan
interaksi secara rutin sehingga dapat dipastikan saling mengenal. Kelompok
sosial yang merupakan kesatuan nyata, memiliki suatu tujuan yang sama, sehingga
setiap anggotanya dituntut untuk menjalankan peranannya masing-masing (Taylor,
Peplau, & Sears, 2009).
Kelompok sosial pada remaja biasanya dapat
dijumpai dalam lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang biasanya
merupakan organisasi atau kelompok persahabatan. Pada kelompok-kelompok
tersebut dapat ditemukan berbagai lambang yang menjadi identitas dari kelompok
tersebut (Steinberg, 2011).
Faktor Pembentukan Kelompok Sosial
pada Remaja
Masa
remaja merupakan masa dimana seorang individu berusaha mencari jati diri. Rasa
ingin dicintai dan dihargai menjadi faktor utama yang membuat seorang remaja berusaha
untuk membentuk suatu kelompok sosial. Selain itu rasa keingintahuan yang
besar, juga sangat mendorong para remaja untuk melakukan interaksi, sehingga
membentuk suatu kelompok (Santrock, 2003).
Perasaaan senasib dan hobi yang sama juga
seringkali menjadi suatu alasan seseorang membentuk suatu kelompok. Setiap
individu, khususnya remaja akan mencari atau bergabung dengan kelompok-kelompok
yang dapat membuatnya merasa nyaman. Rasa ingin diakui dan meraih popularitas
juga dapat menjadi faktor utama seorang remaja membentuk suatu kelompok (Tim
Sosiologi, 2007).
Fungsi Pembentukan Kelompok Sosial
pada Remaja
Sebagai
individu, remaja memerlukan orang lain untuk membantunya dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dengan membentuk atau bergabung dengan suatu kelompok, para
remaja akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya, serta dapat
lebih mengenali dirinya. Selain itu, para remaja juga dapat belajar mengenai
banyak hal sehingga akan meningkatkan kemampuan mereka baik secara afektif
maupun kognitif. Serta keberadaan yang diakui oleh individu lain juga menjadi
salah satu fungsi pembentukan suatu kelompok (Winarti, 2007).
Menurut Bozzi (dikutip dalam Rice & Dolgin,
2002), kelompok sosial juga menentukan kesuksesan seseorang. Semakin sering dan
aktif seseorang dalam berinteraksi, ia akan memiliki semakin banyak relasi yang
dapat membantunya. Selain itu dengan berinteraksi dengan kelompok sosial,
seorang individu akan mendapatkan banyak akses yang akan mempermudah
kehidupannya.
Tahap-tahap Hubungan Kelompok
Sosial pada Remaja
Dalam berkelompok, remaja biasanya
mengalami beberapa tahap hubungan. Menurut Dunphy (dikutip dalam Santrock, 2003) seorang
remaja akan mengalami lima tahap hubungan kelompok, yaitu:
1. Tahap pra-kerumunan;
kelompok yang terpisah, berjenis kelamin sama. Contohnya, kelompok perempuan dan kelompok lelaki.
2. Tahap kerumunan;
kelompok dengan jenis kelamin yang sama mulai melakukan interaksi dengan
kelompok lain. Contohnya, kelompok lelaki yang mulai berinteraksi dengan
kelompok perempuan.
3. Tahap kerumunan melewati transisi
struktural; kelompok yang berjenis kelamin sama membentuk
kelompok dengan jenis kelamin berbeda, terutama pada anggota kelompok yang
berstatus lebih tinggi. Contohnya, kelompok-kelompok persahabatan seperti klik.
4. Tahap kerumunan yang sudah
terbentuk dengan baik; kelompok-kelompok dengan jenis kelamin
yang berbeda mulai terhubungkan dengan saling bergabung satu sama lain. Contohnya,
organisasi remaja.
5. Tahap akhir, awal perpecahan
kerumunan; kelompok-kelompok yang sudah terbentuk dengan baik
mengalami kerenggangan. Keadaan seperti ini biasanya disebabkan karena
perbedaan pendapat serta perbedaan kepentingan.
Macam-macam Jenis Kelompok Sosial pada Remaja
Berdasarkan
beberapa aspek tinjauan, kelompok sosial pada remaja dapat dikelompokan menjadi
beberapa klasifikasi. Menurut Tim Sosiologi (2007) dalam bukunya Sosiologi Dua:
Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat, kelompok sosial pada remaja terdiri dari (a)
kelompok gemeinschaft, (b) kelompok gesellschaft, (c) kelompok primer, (d)
kelompok sekunder, (e) kelompok in group, dan (f) kelompok out group.
Pertama, kelompok gemeinschaft, kelompok
ini merupakan suatu kelompok yang memiliki ikatan yang erat. Pada dasarnya gemeinschaft merupakan kelompok yang
didasari oleh ikatan darah, daerah asal, dan juga ideologi. Kelompok kedua
adalah kelompok gesellschaft, kelompok
ini merupakan kelompok remaja yang terbentuk karena adanya suatu hobi atau
kesenangan yang sama. Ketiga, kelompok pimer, kelompok ini merupakan kelompok yang sering ditemukan dalam
kehidupan remaja. Kelompok yang lebih sering dikenal dengan kelompok klik atau
kelompok persahabatan ini sangat umum terjadi diantara masyarakat. Sedangkan
kelompok yang keempat adalah kelompok sekunder. Kelompok ini merupakan kelompok
yang biasa disebut dengan organisasi. Kelompok sekunder biasanya bersifat
formal dan memiliki asas atau aturan yang kaku di dalamnya.
Kelompok kelima adalah in group. Kelompok ini biasanya didasari oleh rasa simpati dan rasa
saling memahami yang dapat ditemukan dalam kelompok klik atau kelompok
persahabatan dikalangan remaja. Kelompok terakhir adalah kelompok out group. Kelompok ini merupakan kelompok yang biasanya merupakan lawan
dari kelompok ‘in group’ dan menimbulkan
rasa antipati.
Simpulan
Remaja yang merupakan makhluk sosial,
membutuhkan orang lain dalam kehidupan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, para
remaja terus melakukan interaksi, dan akhirnya membentuk suatu kelompok-kelompok
sosial. Kelompok sosial membawa banyak kesempatan bagi para remaja untuk lebih
mengenal kemampuan juga jati diri individu tersebut. Melalui kelompok sosial
para remaja dapat belajar berinteraksi dan membangun relasi dengan individu lain,
serta dapat belajar untuk mengembangkan kemampuannya. Banyak tahap yang dialami
oleh para remaja sebelum pada akhirnya membentuk kelompok-kelompok sosial.
Valentina
705130080
Daftar
Pustaka
Haryanto.
(2010). Pengertian remaja menurut para
ahli. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
Rice, F. T.,
& Dolgin, K. G. (2002). The
adolescent: Development, relationship, and culture (10th ed.). Boston, MA:
A Pearson Education.
Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja (S. B.
Adelar., & S. Saragih, Penerj.) (W. C. Krisnadi., & Y. Sumiharti ,
Eds.). Jakarta: Erlangga.
Steinberg, L. (2011). Adolescence (9th ed.). New York, NY: Mc
Graw-Hill
Taylor, S. E., Peplau, L. A., & Sears, D. O.
(2009). Psikologi sosial (edisi ke-
12). Jakarta: Kencana.
Tim Sosiologi. (2007). Sosiologi 2: Suatu kajian kehidupan
masyarakat (edisi ke-2, revisi). Jakarta: Yudistira.
Winarti, E. (2007). Perkembangan kepribadian.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
No comments:
Post a Comment